10 MAKANAN KHAS ACEH

1. Manisan pala
Manisan pala merupakan salah satu jenis makanan khas aceh, dan juga merupakan makanan ringan yang tergolong dalam kelompok manisan buah-buahan. Usaha pembuatan manisan pala tidak memerlukan teknologi yang sulit dan pembuatannya cukup mudah, oleh karena itu usaha ini mudah dilakukan oleh para pengusaha baru.

Pembuatan manisan pala umumnya dilakukan oleh pengusaha kecil di daerah penghasil pala. Kabupaten Aceh Selatan adalah kabupaten penghasil komoditi pala terbesar di Aceh bahkan di Pulau Sumatera. Manisan buah pala ini termasuk industri rumah tangga yang banyak dijumpai di Kabupaten Aceh Selatan. Selain diolah menjadi manisan dan sirup, pala dapat dibuat juga menjadi minyak pala yang berkhasiat tinggi untuk mengobati luka. Bahkan kini kue dan kembang gula pun dapat dibuat dari buah pala.


2.  Sanger
Sanger adalah sejenis minuman yang hanya ada di Aceh. Sanger atau juga sering di sebut kopi sanger ini secara umum mirip dengan capucino, tapi menurut saya jauh lebih nikmat kopi sanger ini. Selain itu jika kita melihat sekilas maka sanger ini akan sangatlah tampak seperti kopi susu biasa, tetapi jika kita menilik dari rasanya, kopi sanger ini memiliki rasa yang sangat khas dan berbeda dari rasa kopi lainnya.

Memang dari dahulu Aceh ini terkenal dengan khas kopi saring/tarik-nya. Bagi para pecinta kopi sejati pasti akan segera dapat merasakan bedanya, apabila sudah merasakan kopi Aceh. Warung yang paling terkenal dalam menyajikan jenis minuman ini adalah warung solong di kawasan Ulee Kareng dan Chek Yuke di kawasan Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Selain itu, hampir di setiap ruas jalan di Banda Aceh pasti akan banyak kita temui warung-warung kopi, tempat nongkrong dari segala usia.


3.  Pisang Sale
Pisang adalah tanaman hortikultura yang cukup penting untuk kesehatan. Pisang yang sudah matang dapat diolah berbagai macam makanan salah satunya adalah disale alias pisang sale, pisang sale sudah lama dikenal sebagai makanan tradisional daerah, salah satunya pisang sale khas Aceh banyak dikawasan Kabupaten Aceh Timur yang merupakan sentra pisang sale untuk daerah Aceh.

Pisang sale khas Aceh, proses pembuatannya adalah pisang yang sudah matang di kupas kulitnya lalu dijemur dipanas matahari , setelah itu dilakukan penyaleaan/pengasapan sehingga pisang sale lebih tahan lama, seterusnya dioleskan/dilumuri gula tebu (bukan gula pasir),pisang sale mempunyai aroma dan rasa yang khas. Warnanya kecoklat-coklatan, agak berkilat sedikit membuat kita ingin mencicipinya.

Pisang sale merupakan makanan ringan masyarakat Aceh sejak zaman indatu dulu, yang sudah menjadi buah tangan dari Aceh. Pisang sale bisa langsung dimakan atau digoreng dengan tepung terlebih dahulu.


4.  Kembang loyang
Kembang loyang ini terbuat dari tepung roti yang di campur dengan gula dan telur serta pati santan. Adonan ini diaduk hingga rata lalu cetakan kembang loyang dicelupkan ke dalam adonan kemudian digoreng ke dalam penggorengan.

Kue ini sering kita jumpai disaat ada acara hajatan, tidak ketinggalan juga dipelosok-pelosok desa di Aceh kue sangat setia untuk menemani pada hari-hari besar agama, seperti waktu lebaran, serta cocok dinikmati pada waktu-waktu santai bersama keluarga.


5.  Lepat
Lepat, makanan ini di buat dari tepung ketan yang diisi dengan gula merah hingga kalis, kemudian di bungkus dengan menggunakan daun pisang dan di bagian tengahnya di beri kelapa parut yang telah di gongseng dengan gula yang di namakan inti lalu di kukus hingga matang. Lepat khusus di sajikan pada hari-hari tertentu pada masyarakat Gayo terutama menjelang puasa (megang) dan lebaran, makanan ini tahan lama jika diasap dapat bertahan sampai 2 minggu.


6.  Rujak Aceh Samalanga
Rujak Aceh Samalanga, disebut demikian karena rujak Aceh tentunya banyak ditemukan di Aceh sampai dipelosok-pelosok desa. Samalanga merupakan salah satu kecataman yang terdapat di kabupaten Bireuen.

Keunikan rujak Aceh pada umumnya  terletak pada cita rasanya yang asam, manis dan pedas. Bahan-bahan yang digunakan memang relatif sama seperti pembuatan rujak pada umumnya, yang terdiri dari buah mangga, pepaya, kedondong, bengkuang, jambu air, nanas, dan timun, namun bumbu-bumbu yang digunakan, memiliki ciri khas tersendiri seperti garam, cabe rawet, asam jawa, gula aren (merah) yang cair, kacang tanah dan pisang monyet (pisang batu) atau rumbia (salak Aceh).

Yang menarik dari rujak Aceh Samalanga ini, di atas tempat ulekan yang besar terbuat dari batu itu bisa menampung untuk 50 porsi rujak, ada juga ulekan yang digunakan biasanya yang terbuat dari kayu jati. Cara penyajiannya rujak biasanya memang dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama ditaruh di dalam piring dan yang kedua ditaruh di atas daun pisang. Pembeli yang makan di warung, biasanya disediakan di dalam piring, sedangkan yang akan dibawa pulang, biasanya dibungkus dengan daun pisang yang tentu menjadi ciri khas tersendiri.

7.  Keumamah
Keumamah atau sering disebut dengan Ikan kayu merupakan makanan tradisional Aceh dan makanan khas Aceh yang paling banyak diminati oleh masyarakat Aceh. Selain memiliki rasa yang lezat dan unik, ikan ini terbuat dari ikan tuna yang telah direbus, kemudian dikeringkan dan diiris-iris kecil.

Biasa dimasak dengan menggunakan santan kelapa, kentang, cabai hijau dan rempah lainnya. Ikan kayu ini tahan lama untuk dibawa perjalanan jauh, sehingga dapat dijadikan bekal dalam perjalanan. Selama perang Aceh melawan Belanda di hutan, jenis makanan ini sangat terkenal karena sangat mudah dibawa dan dimasak. Nama lainnya adalah katsuobushi.


8.  Kue Bhoi
Kue Bhoi adalah maknan khas Aceh Besar yang dikenal luas oleh masyarakat Aceh. Bentuk kue ini sangat bervariasi, seperti : bentuk ikan, bintang, bunga, dan lain-lain. Kue Bhoi ini dapat menjadikan salah satu buah tangan ketika akan berkunjung ke sanak saudara atau tetangga yang mengadakan hajatan atau pesta, seperti sunatan dan kelahiran.

Kue Bhoi ini mempunyai harga yang sangat relatif murah, satu kemasan berkisar dengan harga Rp. 5.000,- ,10.000,- bahkan ada yang ratusan ribu. Kue Bhoi juga dijadikan sebagai salah satu isi dari bingkisan seserahan yang dibawa oleh calon pengantin pria untuk calon pengantin perempuan pada saat acara pernikahan.

Kue Bhoi sendiri biasanya diperoleh di pasar-pasar tradisional ataupun dipesan langsung pada pembuatnya. Proses pembuatan kue Bhoi ini pun tergolong sedikit rumit. Pasalnya, tidak semua orang bisa membuat kuliner ini dan dibutuhkan kesabaran serta keuletan.


9.  Bohromrom
Bohromrom atau dikenal juga dengan kue boh duek beudeh, kue ini terbuat dari tepung ketan yang dibalut dengan parutan kelapa. Cara membuatnya sangat mudah. Campurkan tepung ketan, garam dan air panas. Aduk hingga rata. Tuang air dingin, aduk hingga adonan kalis. Ambil satu sendok teh adonan isi dengan bahan isian yakni gula jawa. Bulatkan dan panaskan air bersama daun pandan hingga mendidih. Masukkan adonan, angkat, gulingkan diatas kelapa parut lalu sajikan.


10.  Meuseukat 
Meuseukat ini merupakan salah satu kue tradisional dari aceh atau semacam dodol nanas khas aceh. Meuseukat terbuat dari tepung terigu dan campuran buah nanas, paduan yang unik dengan cita rasa yang khas. Meuseukat sangat jarang ditemukan dipasar-pasar tradisional dan terkadang harus dipesan terlebih dahulu.

Jika sebelumnya meuseukat sering dibawa pada acara perkawinan Aceh, kini meuseukat dapat juga dijadikan oleh-oleh jika berkunjung ke aceh.




Itulah 10 makanan khas Aceh, jangan lupa untuk mencicipi salah satu jenis makanan di atas atau bisa juga Anda bawa pulang sebagai oleh-oleh berkunjung ke Aceh.
SEJARAH KOPI GAYO ACEH

Kebun kopi Gayo

Saat ini di Aceh terdapat dua jenis kopi yang di budidayakan adalah kopi Arabika dan kopi Robusta Dua jenis Kopi Gayo yang sangat terkenal yaitu kopi Gayo (Arabika) dan kopi Ulee Kareeng (Robusta). Untuk kopi jenis Arabika umumnya dibudidayakan di wilayah dataran tinggi “Tanah Gayo”, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues, sedangkan di Kabupaten Pidie (terutama wilayah Tangse dan Geumpang) dan Aceh Barat lebih dominan dikembangkan oleh masyarakat disini berupa kopi jenis Robusta. Kopi Arabika agak besar dan berwarna hijau gelap, daunnya berbentuk oval, tinggi pohon mencapai tujuh meter. Namun di perkebunan kopi, tinggi pohon ini dijaga agar berkisar 2-3 meter. Tujuannya agar mudah saat di panen. Pohon Kopi Arabika mulai memproduksi buah pertamanya dalam tiga tahun. Lazimnya dahan tumbuh dari batang dengan panjang sekitar 15 cm. Dedaunan yang diatas lebih muda warnanya karena sinar matahari sedangkan dibawahnya lebih gelap. Tiap batang menampung 10-15 rangkaian bunga kecil yang akan menjadi buah kopi.

Dari proses inilah kemudian  muncul buah  kopi  disebut cherry, berbentuk oval, dua buah berdampingan. Kopi Gayo merupakan salah satu komoditi unggulan yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo. Perkebunan Kopi yang telah dikembangkan sejak tahun 1908 ini tumbuh subur di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Kedua daerah yang berada di ketinggian 1200 m dari permukaan laut tersebut memiliki perkebunan kopi  terluas di Indonesia  yaitu  dengan   sekitar 81.000 ha. Masing-masing 42.000 ha berada di Kabupaten Bener Meriah dan selebihnya 39.000 ha di Kabupaten Aceh Tengah. Gayo adalah nama Suku Asli yang mendiami daerah ini. Mayoritas masyarakat Gayo berprofesi sebagai Petani Kopi.

Varietas Arabika mendominasi jenis kopi yang dikembangkan oleh para petani Kopi Gayo. Produksi Kopi Arabika yang dihasilkan dari  Tanah  Gayo  merupakan  yang terbesar di Asia Kopi Gayo merupakan salah satu kopi khas digemari oleh  berbagai   di dunia. Kopi Gayo memiliki aroma dan rasa yang sangat khas. Kebanyakan kopi yang ada, rasa pahitnya masih tertinggal di lidah kita, namun tidak demikian pada kopi Gayo. Rasa pahit hampir tidak terasa pada kopi ini. Cita rasa kopi Gayo yang asli terdapat pada aroma kopi yang harum dan rasa gurih hampir tidak pahit. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa rasa kopi Gayo melebihi cita rasa kopi Blue Mountain yang berasal dari Jamaika. Kopi Gayo dihasilkan dari perkebunan rakyat di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. 

SEJARAH MIE ACEH


Indonesia terkenal dengan beragam budaya yang dimilikinya hingga makanannya, tak heran apabila Indonesia dapat dikatakan menjadi salah satu Negara dengan surga kuliner yang beraneka ragam. Setiap daerah di Indonesia mempunyai beragam ciri khas makanan masing-masing, Anda tidak hanya akan menemukan satu jenis makanan khas saja, akan tetapi suatu daerah dapat memiliki beberapa jenis kuliner yang lainnya sesuai dengan beragam adat dan budaya yang dimiliki.
Mie Aceh merupakan salah satu makanan khas di Indonesia tepatnya dari kota Aceh. Mie Aceh yang satu ini merupakan sebuah jenis makanan mie pedas khas daerah Istimewa Aceh, Indonesia. Mie yang berwarna kuning dengan teksturnya yang tebal serta ditambah dengan irisan daging sapi, daging kambing ataupun makanan laut yang lainnya (udang dan cumi) dapat disajikan dengan sup kari yang kental, gurih dan pedas. 

Mie Aceh terdiri dari dua jenis, yaitu Mie Aceh Goreng (digoreng dan kering) dan Mie Aceh Kuah (sup). Selain itu Mie Aceh juga ditaburi dengan bawang goring dan disajikan bersama emping, potongan bawang merah, mentimun serta jeruk nipis.

Apabila dilihat dari sisi sejarahnya, jenis kuliner ini tidak terlepas dari budaya local masyarakat Aceh serta pengaruh budaya asing yang masuk ke dalam wilayah Aceh pada masa lampau. Sup yang berbasis kuah kari yang cukup kental ini merupakan suatu pengaruh dari masakan India, sementara mie meupakan pengaruh dari China. Penyajiannya yang ditambahkan potongan daging kambing atau sapi juga dapat menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam di Aceh sangatlah kuat. Mereka membutuhkan bahan-bahan makanan yang halal khususnya daging. Penambahan Seafood yang disaji dalam Mie Aceh dikarenakan letak geografis Aceh sendiri yang dikelilingi oleh Selat Malaka, Laut Andaman dan Samudera Hindia, selain itu juga dilihat dari kehidupan mayoritas masyarakat Aceh yang merupakan petani, pedagang maupun nelayan. Kini, Anda dapat mudah menemukan kuliner khas daerah istimewa Aceh ini dikarenakan kuliner sudah tersebar di seluruh penjuru kota di Indonesia.


Bermula dari kegemarannya menyantap Mie Aceh di kantor tempat Ia bekerja, Reinhart mulai mencoba untuk memulai peruntungan di bisnis kuliner Mie Aceh. Dengan modal secukupnya serta tekad untuk sukses, membuat Reinhart menggali berbagai ilmu terkait kuliner dari Sumatera ini. Cita rasa bumbu yang khas serta unik membuat Reinhart mulai mempelajari dan mendalami cara mengolah dan menyajikan Mie Aceh yang terkenal dengan rasa pedas, segar dan lezat serta kaya akan rempah-rempah. Rupanya, usaha yang dilakukan Reinhart tidak sia-sia. Terbukti, dengan ketekunan serta cita rasa unik dari Mie Aceh olahannya menjadikan Ia dapat dipandang sebagai wirausahawan baru yang cukup berkompeten di dunia kuliner Indonesia. Dari usaha kecil-kecilannya, Reinhart memulai untuk membuka bisnisnya yang tergabung dalam sebuah cafe dan hanya mempunyai dua orang karyawan saja. Tidak menyerah sampai di situ, pelan tapi pasti Reinhard mulai berani untuk membuka resto khusus yang lebih menarik sehingga mendatangkan berbagai customer dari berbagai wilayah khususnya pencinta Mie Aceh dan kuliner nusantara. Harga yang cukup terjangkau menjadikan Rumoh Mie Aceh dapat dijadikan salah satu pilihan bagi para penikmat kuliner khas Nusantara terutama para keluarga dan anak muda yang ingin mencicipi masakan khas Aceh ini tanpa takut kantong jebol. Rumoh Mie Aceh sendiri juga menyediakan layanan delivery layaknya resto pada umumnya dengan area di sekitar Kosambi dan beberapa area lainnya dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
TIPS MEMBUAT MIE KENYAL

Siapa tidak kenal mie? Mie merupakan adonan tipis dan panjang yang telah digulung, dikeringkan, dan dimasak dalam air mendidih. Mie telah diperebutkan banyak bangsa. Orang Italia, Tionghoa, dan Arab telah mengklaim bahwa bangsa merekka merupakan pencipta mie, meskipun tulisan tertua mengenai mie berasal dari Dinasti Han Timur, antara tahun 25 dan 220 Masehi. Pada Oktober 2005, mie tertua yang diperkirakan berusia 4.000 tahun ditemukan di Qinghai, Tiongkok. 


Kali ini Rumoh Mie Aceh akan membagikan tips membuat mie telur yang kenyal dan lezat hasil olahan sendiri. Bahan yang perlu disiapkan antaranya:
  • 250 gr tepung terigu
  • 35 gr tepung tapioka atau tepung kanji
  • 1 sendok teh garam halus
  • 3 sendok makan minyak bawang
  • 2 butir telur ayam
  • 1 sendok teh kaldu ayam bubuk
  • 40 ml air bersih

Cara Membuat Mie Telur :
  1. Campurkan tepung terigu dan tepung tapioka dalam satu wadah, aduk rata.
  2. Buat lubang ditengah-tengah campuran tepung lalu masukkan minyak bawang dan telur ayam.
  3. Uleni adonan dengan tangan sampai tercampur rata.
  4. Campurkan air, garam dan kaldu ayam bubuk, aduk menjadi satu.
  5. Tuang air tersebut kedalam campuran tepung sedikit demi sedikit sambil diuleni sampai kalis dan tidak lengket ditangan.
  6. Diamkan adonan selama 20 menit dalam wadah yang tertutup dengan plastik.
  7. Setelah 20 menit, pipihkan adonan lalu digiling dengan menggunakan penggiling mie atau dilakukan secara manual dipipihkan dengan botol atau kayu dan jangan lupa taburi dengan tepung terigu supaya tidak lengket.
  8. Cetak adonan yang sudah dipipihkan menjadi bentuk mie.
  9. Setelah terbentuk mie, taburi dengan tepung secukupnya supaya tidak menempel satu sama lain.
  10. Mie siap diolah menjadi berbagai masakan yang sangat lezat.

Catatan penting
Garam pada Adonan Mie
Tambahkan garam ke dalam adonan mie buatan Anda. Selain bermanfaat untuk memperkaya rasa, garam juga membantu pembentukan gluten dalam tepung terigu yang Anda gunakan sehingga tekstur mie Anda akan lebih kenyal.
Agar Adonan Lebih Elastis
Campurkan minyak goreng ke dalam adonan mie Anda agar adonan lebih elastis dan tidak mudah putus. 
Penyimpanan Adonan
Adonan mie segar biasanya hanya bertahan selama 6-8 jam di ruangan terbuka. Setelah lebih dari 8 jam, mie akan mulai mengering dan menjadi lembek ketika direbus. Untuk menghindari hal ini, simpanlah adonan mie Anda dalam wadah tertutup sehingga adonan tersebut tidak mudah mengering. Namun, jika Anda ingin membuat persediaan adonan mie dalam jumlah banyak, Anda dapat menyimpannya di dalam wadah tertutup dan meletakkannya di dalam freezer. Cara ini dijamin ampuh untuk menjaga kualitas adonan mie Anda tetap baik sebelum dimasak.
Gunakan Tepung Terigu Beprotein Tinggi
Tepung terigu berprotein tinngi mengandung 14% protein. Biasa tepung terigu jenis ini digunakan untuk membuat aneka roti dan mie. Contoh tepung terigu berprotein tinggi adalah Tepung Terigu Cakra Kembar dari Bogasari. Tepung terigu berprotein tinggi membantu membuat tektur mie lebih elastis dan tidak mudah putus.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Mi_%28makanan%29
http://www.bungasari.com/flour_power/tips_and_technique_detail/380/Tips-Membuat-Mie-Kenyal-Tanpa-Putus
http://www.resepnasional.com/cara-membuat-mie-telur-kenyal-dan-lembut/

7 MAKANAN TRADISIONAL ACEH

Aceh merupakan wilayah yang memiliki berbagai kekayaan meliputi sumber daya alam dan manusia, ilmu pengetahuan, serta budaya. Hal inilah yang membuat unggul dari zaman kerajaan, penjajahan hingga zaman modern sekarang ini. Kota yang mendapat julukan "Serambi Mekkah" ini selain terkenal dengan wisata budaya juga tidak ketinggalan dengan wisata kulinernya. Beraneka ragam sajian kuliner yang membuat lidah kita bergoyang. Maka tidak heran kalau kita berkunjung ke Aceh akan didapatkan panganan khas Aceh. Apa saja makanan tradisional khas Aceh tersebut, yuk kita simak.

Mie Aceh
Mie Aceh, satu jenis kuliner yang menggoda dari Aceh, dapat dicicipi dengan dua cara, yakni di goreng atau direbus alias menggunakan kuah. Untuk rasa bisa memilih sendiri, apakah ingin pedas atau tidak. Sebagai variasi bisa meggunakan kepiting, daging atau seafood. Variasi inilah yang nanti menentukan nama mienya.








Kuah Pliek U
Kuah Pliek 'U adalah makan aceh yang sangat populer dengan campuran berbagai rasa dan kaya akan vitamin serta zat-zat yang bisa meningkatkan gairah dan kekebalan tubuh. 
Selain itu juga Kuah Pliek 'U juga merupakan makanan yang melambangkan kekerabatan dan keanekaragaman dalam masyarakat Aceh yang dapat disatukan dalam satu kuali, sehingga mengasilkan rasa yang unik dan digemari oleh seluruh masyarakat di luruh dunia. kuah Pliek 'U juga merupakan media memperkenalkan hasil alam Aceh yang begitu kaya akan jenis sayurnya sehingga dengan menyantap kuah Pliek 'U berarti kita telah menyantap seluruh sayuran yang ada di Aceh. Masakan ini wajib dimakan, karena pergi ke Aceh tanpa makan Kuah Pliek 'U, sama seperti belum pergi ke Aceh. Masakan ini sangat mudah didapatkan, 90% rumah makan di Aceh pasti menyediakan Kuah Pliek 'U.



Ayam Tangkap
Ayam tangkap merupakan makanan khas Aceh Besar, terbuat dari ayam yang di goreng dengan cabe hijau dan daun Teumuru atau Salam Koja atau Daun Kari (orang Aceh menyebutnya Teumuru sementara 2 nama lainnya saya dapat dari. Rasanya memang seperti ayam goreng biasa ditambahi aroma daun teumuru dan cabai hijau sehingga mempunyai sensasi rasa tersendiri. Ayamnya dipotong kecil-kecil sehingga tersembunyi dibalik tumpukan daun teumuru dan cabai hijau goreng serta taburan bawang goreng di atasnya, mungkin karena tersembunyi itulah maka dinamakan ayam tangkap


Martabak Aceh
Martabak ini adalah martabak khas Aceh yang berbeda dari martabak yang biasa kita kenal. Bagaimana dengan cita rasa makanannya? Martabaknya tentu berbeda dengan martabak yang biasa kita temui. Dengan bahan dasar roti Cane, Sedangkan martabaknya sepintas mirip dengan telor dadar biasa, tapi ketika digigit baru terasa perbedaannya. Martabak ini menggunakan roti cane sebagai "kulitnya", dan dengan rasa yang gurih dan sedikit pedas, martabak aceh ini enak untuk disantap sebagai cemilan dan teman minum kopi anda.


Rujak Aceh
Anda tentu tak asing lagi dengan rujak. Kudapan sehat itu terbuat dari aneka buah segar yang dicocol dengan sambal gula merah yang menggoda. Namun, pernahkah Anda mencoba rujak Aceh? Berbeda dengan rujak yang biasa kita makan, rujak Aceh ini memiliki ciri khas tersendiri yang membuat rasanya berbeda dan rujak pada umumnya. Yang membuat rujak Aceh berbeda adalah buah yang dipakai. Rujak Aceh menggunakan buah rumbia khas Aceh. Buah yang daunnya digunakan untuk membuat atap rumah ini diserut bersama buah-buahan lainnya. Rujak Aceh sudah menjadi makanan tradisional di daerah ini sejak lama. Makanan ini nikmat dimakan dalam keadaan dingin atau dicampur dengan es serut dengan siraman saus rujak dan dinikmati di siang hari yang terik.

Kue Adee
Kue tradisional sejenis bingkang manis ini, hanya bisa ditemui di Aceh, khususnya di kawasan kabupaten Pidie Jaya. Namanya pun tak susah untuk dilafal, yakni Adee.
Adee merupakan jenis kue bertekstur lembut, legit, dan manisnya berasal dari gula asli. Sepintas kue ini mirip dengan bingkang. Adee bisa menjadi paduan enak saat menyeruput segelas kopi atau teh. Juga bisa menjadi hidangan istimewa untuk menjamu tamu. Atau pun sebagai oleh-oleh untuk teman dan kerabat di luar kota.

Kue Timphan
Hidangan kue khas Aceh disaat lebaran atau hari raya baik hari raya Idul fitri maupun Idul Adha, Timphan ini dibuat 1 atau 2 hari sebelum lebaran dan daya tahannya bisa mencapai kurang lebih seminggu lamanya, Timphan adalah menu hidangan utama buat tamu yang berkunjung kerumah saat lebaran. Timphan yang merupakan makanan lembek berbalut daun pisang muda ini yang paling terkenal adalah Timphan rasa srikaya. 


KOPI ACEH

Bagi anda pecinta kopi, tentunya kopi Aceh merupakan jenis kopi yang patut dicoba. Selain rasanya yang nikmat dan akan membuat para penikmatnya ketagihan. Kopi Aceh merupakan bijian kopi yang dibawa oleh seoraqng pengusaha Belanda yang masuk ke Aceh pada abad XVII. Dalam dunia kopi terdapat 2 jenis yaitu kopi Arabica dan kopi Robusta. Bijian kopi ini pada akhirnya dibudidayakan oleh masyarakat setempat dan merupakan salah satu hasil mata pencaharian yang dapat diandalkan. Kopi jenis Arabica dibudidayakan di dataran tinggi seperti Gayo. Sedangkan kopi jenis Robusta berada di wilayah Aceh Barat. Dengan kondisi alam yang subur, Aceh menjadikan biji kopi sebagai sumber pemasukan bagi warga setempat, dengan memaksimalkan kualitas yang tinggi dan menjadikan Indonesia pengekspor biji kopi keempat terbesar di dunia. Bahkan Aceh mampu menghasilkan40% biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen di Indonesia.


Kopi Ulee Kareng
Nama jenis kopi Ulee Kareng ini diambil dari salah satu kecamatan Banda Ace\eh. Jika anda berkunjung ke daerah ini, pastikan anda mampir dan mencicipi kopi yang terkenal dengan warnanya yang sangat pekat. Biji kopi Ulee Kareng diproduksi oleh penduduk setempat setelah melewati proses penggilingan yang unik dan disaring menjadi minuman. Aroma dari kopi Ulee Kareng sangat melegenda di Indonesia bahkan mendunia baik itu dikalangan internasional maupun lokal. Proses penggilingan tersebut pertama dioven selama 4 jam lalu setelah mencapat kematangan 40% biji kopi dicampur dengan gula. Biji kopi dimasak, digiling sampai halus. Proses inilah yang membuat aroma kopi menjadi harum dan bersih serta tidak asam.






Kopi Gayo
Kopi Gayo berasal dari sebuah nama suku yang mendiami daerah tersebut. Sama seperti kopi Ulee Kareng dimana masyarakatnya menjadikan kopim sebagai komoditi ungggulan. Kopi Gayo memiliki cita rasa yang digemari banyak kalangan. Keunggulannya adalah aroma dan rasa yang sangat khas, serta rasa kopi yang tidak pahit. Tradisi meminum kopi terus dijalani turun temurun, diantaranya kedai kopi di Aceh sebagai ajang berkumpul, bertemu dan bersosialisasi dengan kerabat.



Jika anda tertarik untuk menikmati kopi jenis Ulee Kareng dan Gayo, anda dapat menyempatkan diri untuk berkunjung ke salah satu rumah makan Aceh, “Rumoh Mie Aceh” yang berlokasi di kompleks Kosambi Baru. Disini anda dapat menikmati 4 jenis kopi, yaitu Gayo Robusta, Gayo Arabika, Ulee Kareng, dan Samalanga. Tidak hanya mencicipi kopi nikmat, tetapi adna juga bisa mencoba menyantap mie bercitarasa Aceh yang sedap. Martabak dan roti cane yang lezat juga menjadi pelengkap menu pada restoran khas Aceh ini. Jika anda penasaran untuk menikmati kopi dan makanan khas Aceh, pastikan anda datang ke Rumoh Mie Aceh untuk mendapatkan pengalaman kuliner yang tak terlupakan.
Powered by Blogger.